Peristiwa
awal-mulanya kejatuhan Adam dan Hawa ke dunia merupakan kisah yang
sangat menarik, bukan hanya dalam khazanah Islam, tetapi juga agama
samawi lainnya seperti Yahudi dan Kristen. Namun kalau dilihat gaya
bahasa Al-Qur’an dalam menceritakan kisah ini, kalimat-kalimatnya sangat
membuka peluang untuk penafsiran, mulai dari pemakaian kata bahasa
Arab, susunan kalimat, maupun hubungan antara satu kelompok ayat dengan
kelompok lainnya. Keterbukaan penafsiran kisah ini anehnya tidak membuat
maksud dan tujuan Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk terhadap eksistensi
Allah menjadi tidak jelas. Apapun penafsiran yang dimunculkan, muaranya
tetap saja kepada satu hal, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa,
Maha Tahu dan Maha Pengampun, sedangkan manuia adalah makhluk-Nya yang
lemah, cenderung berbuat salah dan ujung-ujungnya kembali menyerahkan
diri kepada Allah untuk meminta ampunan.
Al-Qur’an
sendiri menceritakan kisah ini terpencar sebanyak 7 kali dalam 7 surat,
yaitu : Al-Baqarah 30-39, Al-A’raaf 11-25, Al-Hijr 26-42, Al-Kahfi 50,
Al-Isra’ 61-65, Thaaha 115-124 dan Shaad 71-85. Inti dari kisah
tersebut bisa dilihat, baik melalui penggabungan semua ayat maupun
dibaca secara sendiri-sendiri, pengulangan tidak diartikan menyampaikan
fokus kisah yang sama karena setiap rangkapan ayatnya memiliki
kekhususan masing-masing.
Satu
hal yang membedakan pemahaman Islam dengan ajaran Yahudi dan Kristen,
‘terlemparnya’ umat manusia untuk hidup di dunia ini bukanlah merupakan
suatu kutukan. Ayat Al-Qur’an yang menginformasikan hal tersebut
hanyalah menjelaskan adanya beberapa perubahan yang dialami oleh Adam
dan Hawa. Setelah terjadinya pelanggaran, Allah lalu memerintahkan
mereka untuk turun ke dunia dengan menyebutkan bagaimana kondisi yang
akan dialami mereka dan anak-keturunan, bahwa manusia di dunia akan
bermusuhan satu sama lain (QS 2:36), (QS 7:24) dan (QS 20:123), namun
sebaliknya dikatakan juga pada ayat yang sama, manusia juga akan
menjalani kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan, mempunyai
tempat kediaman dan tetap akan mendapatkan petunjuk dari Allah. Pada
banyak ayat lain, Al-Qur’an menyebutkan juga bahwa kehidupan di dunia
adalah ‘kesenangan yang menipu’ (QS 57:20) dengan segala rejeki, harta,
emas perhiasan, anak keturunan (QS 13:26), (QS 18:46), ( 57:20), (QS
9:55) dan banyak ayat lainnya, sehingga membuat orang-orang yang terlena
dengannya akan lebih mementingkan kehidupan dunianya dibandingkan apa
yang akan diperoleh di akhirat (QS 2:212), (QS 30:7), (QS 76:27),
intinya tidak ada satu ayatpun yang menyatakan hidup di dunia ini penuh
ketidak-enakan, sengsara dan hasil dari suatu kutukan.
Sebaliknya penggambaran kondisi ‘jannah’ tempat Adam dan Hawa
sebelumnya digambarkan bukan sebagai suatu yang berkontradiksi dengan
apa yang dialami mereka di dunia. Ketika Allah memerintahkan mereka
untuk tinggal di ‘jannah’ setelah masa penciptaan mereka, Allah
menyatakan bahwa ditempat tersebut : tersedia makanan yang baik lagi
banyak (QS 2:35), bisa dimakan dimanapun mereka sukai (QS 7:19), tidak
akan kelaparan, dahaga, ditimpa panas matahari dan telanjang (QS
118-119).
Dengan
memperbandingkan kedua kondisi tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa
kehidupan dunia tempat Adam dan Hawa ‘dilemparkan’ Allah bukan merupakan
alam yang bertolak-belakang dengan ‘jannah’ tempat mereka hidup
sebelumnya. Apa yang mereka dapatkan disana juga mereka dapatkan di
dunia ini, kalaupun dikatakan bahwa kesenangan hidup didunia hanya
sampai batas waktu yang ditentukan, maka tidak juga ada pernyataan bahwa
Adam dan Hawa juga mengalami kesenangan hidup dijannah selama-lamanya,
toh buktinya mereka juga harus dikeluarkan dari sana karena telah
melakukan kedurhakaan kepada Allah.
Lagipula seandainya hidup di dunia dipersepsikan sebagai kutukan yang
diterima Adam dan Hawa, maka mereka tentu saja akan menularkan pemahaman
ini kepada anak-cucu sampai ke akhir jaman, dan akan terjadi suatu
pandangan global bahwa menjalani kehidupan dunia adalah suatu
ketidak-enakan karena hidup dalam kutukan. Ternyata Al-Qur’an justru
menyatakan untuk orang-orang yang kafir dan tidak menyadari bagaimana
nanti kehidupan akhirat mereka, hidup di dunia adalah kesenangan yang
melenakan sehingga enggan untuk meninggalkannya (QS 10:7), (QS 14:3),
(QS 2:212). Bagaimana bisa manusia ada yang betah hidup di dunia padahal
dinyatakan bahwa ini adalah suatu kutukan..?
Selanjutnya
adalah soal kondisi bermusuhan yang diinformasikan Allah tentang
kehidupan di dunia. Yang perlu disimak adalah Al-Qur’an sama sekali
tidak menyatakan bahwa Adam dan Hawa dijannah tidak akan mengalami
kondisi permusuhan satu sama lain, tidak juga dikatakan bahwa mereka
akan beranak-pinak disana. Satu-satunya informasi tentang tujuan
penciptaan manusia melalui Adam dan Hawa adalah :
Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS 2:30)
Allah
hanya menyatakan bahwa Dia akan menjadikan ‘seorang khalifah’ dimuka
bumi, dan ternyata ‘desain’ manusia tersebut sudah diketahui para
malaikat bahwa mereka mengandung unsur yang merusak dan saling
bermusuhan satu sama lain, jadi bisa dikatakan bahwa naluri bermusuhan
tersebut sudah ada ‘dari sononya’ sudah terintergrasi dalam proses
penciptaan Adam dan Hawa sekalipun mereka menjalani hidup dijannah.
Ketika Allah menyatakan bahwa kondisi permusuhan tersebut baru muncul
setelah dipindahkan ke dunia maka yang berubah bukanlah kodrat mereka
yang memang sudah didesain demikian, melainkan munculnya suatu kondisi
yang akan mendorong terjadinya permusuhan, suatu kondisi yang tidak ada
dijannah tempat mereka berada sebelumnya.
Pertanyaannya
adalah :”Apakah kondisi yang bisa mendorong manusia untuk bermusuhan
satu sama lain..?”. Dalam hal ini kita bisa bebas menduga-duga,
seandainya Adam dan Hawa tetap hidup dijannah dan tidak berkembang-biak
disana dengan makanan dan kebutuhan hidup yang tersedia, bisa didapatkan
dengan mudah, apakah mungkin diantara mereka akan terjadi pertikaian
dan permusuhan..? Permusuhan sepanjang sejarah umat manusia terjadi
karena adanya beberapa hal : (1) Manusia berkembang-biak (2) Adanya
perebutan kebutuhan secara materil maupun non-materil, sehingga ketika
Adam dan Hawa ditempatkan dengan kondisi tidak berkembang-biak dan
kebutuhannya terpenuhi maka tidak mungkin terjadi permusuhan diantara
keduanya, sekalipun desain mereka memiliki unsur tersebut.
Kalau
dugaan ini memang tepat, kita bisa berpikir lebih lanjut tentang
perbuatan durhaka yang telah dilakukan Adam dan Hawa sehingga mereka
dinyatakan tidak lagi layak untuk hidup dijannah.
Al-Qur’an menyebutkan penyebab Adam dan Hawa dikeluarkan dari jannah
karena mereka : telah mendekati ‘sajaratun’ – pohon (QS 2:35), 'merasakan sajaratun’ - pohon (QS 7:22), ‘sajaratun khuldi’ – pohon khuldi (QS 20:120).
Perlu diketahui bahwa penamaan ‘sajaratun’ tersebut dengan ‘khuldi’
bukanlah merupakan informasi yang berasal dari Allah, nama tersebut
datang dari Iblis yang tercatat dalam Al-Qur’an, demikian juga dengan
penjelasan bahwa pohon ‘khuldi’ tersebut adalah sesuatu yang
memunculkan : kerajaan yang tidak akan binasa (QS 20:120), bisa merubah
manusia menjadi malaikat dan kekal di surga (QS 7:20), penjelasan makna
dari ‘khuldi’ ini juga bukan berasal dari Allah, melainkan dari
iming-iming Iblis kepada Adam dan Hawa. Menarik untuk diamati tentang
iming-iming Iblis ini. Terlepas dari apapun penafsiran tentang ‘sajaratun’, namun ketika Iblis mengiming-imingi Adam dan Hawa bahwa kalau ‘mendekati’ atau ‘merasakan’ sajaratun
maka mereka bisa kekal hidup dijannah, artinya dalam pengetahuan yang
ada di pikiran Adam dan Hawa, kehidupan mereka dijannah tersebut memang
tidak kekal. Tidak masuk akal kalau Iblis mengiming-imingi sesuatu yang
sudah diperoleh oleh Adam dan Hawa toh..? Sama saja anda berusaha
membujuk seseorang yang sudah kekenyangan dengan makanan, pasti bujukan
tersebut tidak akan mempan. Ini bisa memunculkan kesimpulan bahwa Adam
dan Hawa ditempatkan dijannah tersebut bukan untuk selamanya, dan itulah
yang ada dalam pemahaman mereka berdua.
Hal
lain yag menarik untuk disimak adalah soal akibat langsung yang dialami
Adam dan Hawa setelah mereka ‘mendekati’ atau ‘merasakan’ sajaratun khuldi
tersebut., mereka diinformasikan oleh Al-Qur’an : nampaklah bagi
keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan
daun-daun (yang ada di) surga (QS 20:121) dan (QS 7:22). Pertanyaannya
adalah :”Mengapa pelanggaran yang mereka lakukan bisa ‘berakibat
langsung’ dengan terbukanya aurat..? Apakah sebelum itu aurat mereka
tertutup atau sebenarnya sama saja keadaannya namun yang berubah adalah
‘kesadaran’ mereka terhadap aurat..?.”. Ayat ini menunjukkan bahwa
terbukanya aurat bukanlah merupakan kutukan yang ditimpakan Allah,
melainkan menjadi suatu ‘konsekuensi logis’ dari perbuatan mereka ‘mendekati’ atau ‘merasakan’ sajaratun. Sampai disini, saya tidak perlu meng-explore lebih jauh penafsirannya, silahkan anda membuat penafsiran sendiri..
Dalam
kisah Al-Qur’an tersebut Adam dan Hawa dinyatakan sudah bertaubat
kepada Allah atas pelanggaran yang mereka lakukan. Dalam QS 2:37
digambarkan penerimaan taubat tersebut dilakukan setelah adanya perintah
Allah agar mereka turun kebumi, pada QS 7:23 dinyatakan Adam dan Hawa
mengucapkan kalimat taubah sebelum adanya jawaban Allah untuk menurunkan
mereka kedunia, sedangkan pada QS 20:122 menunjukkan penerimaan taubat
dilakukan juga sebelum perintah Allah tersebut. Ini mengindikasikan
bahwa diterimanya taubat Adam dan Hawa bukanlah merupakan hal yang
‘langsung jadi’ secara instan, melainkan melalui proses yang panjang,
dimulai sebelum ‘eksekusi’ hukuman, sampai jauh ke masa mereka sudah
menjalani hidup di dunia. Dalam satu riwayat dikatakan Adam dan Hawa
selama 300 tahun (dalam riwayat yang lain disebutkan 600 tahun) secara
terus-menerus memanjatkan do’a ampunan, tanpa berani menegadahkan
wajahnya kelangit karena malu. Berapapun lamanya masa-masa tersebut,
yang pasti diterimanya taubat Adam dan Hawa memang melalui proses yang
panjang.
Pertanyaannya
adalah :”Kalau memang taubat Adam dan Hawa sudah diterima Allah, lalu
mengapa masih ‘menjalani hukuman’ untuk tetap hidup di dunia..?”.
Ketika kita merujuk kepada informasi Al-Qur’an terhadap perbandingan
kehidupan dijannah dan di dunia yang dialami mereka, yang dikatakan
bahwa diantara keduanya bukanlah sesuatu kondisi yang berkontradiksi,
maka bisa kita simpulkan perubahan kehidupan tersebut bukan merupakan
akibat dosa atas kedurhakaan mereka, melainkan karena ‘konsekuensi logis’ yang sangat erat kaitannya dengan terbukanya aurat Adam dan Hawa yang juga merupakan ‘konsekuensi logis’ setelah mereka mendekati atau merasakan sajaratun (pohon) khuldi.
Sebagai
analoginya, saya akan mengungkapkan sebuah gambaran : Katakanlah
sepasang manusia laki-laki dan perempuan yang berstatus lajang, mereka
lalu melakukan perzinahan sehingga si wanitanya hamil dan melahirkan
seorang anak. Munculnya anak tersebut akan mengakibatkan status sepasang
manusia yang sebelumnya lajang, berubah status menjadi seorang ayah dan
ibu, status yang disandang mereka tersebut adalah ‘konsekuensi logis’
dari terciptanya seorang anak akibat perbuatan mereka tersebut. Ketika
mereka meminta ampun kepada Allah dan Allah memberikan ampunannya, tidak
lagi menyatakan perzinahan yang dilakukan adalah dosa, dosa tersebut
sudah tidak dianggap lagi sebagai dosa, dihapus dan tidak bakalan
diperhitungkan lagi di akhirat, lalu apakah dengan demikian status
laki-laki dan perempuan yang sudah menjadi ayah dan ibu tersebut akan
kembali ke asal menjadi lajang..? Apakah si anak yang sudah tercipta
akan masuk lagi ke perut ibunya dan kembali menjadi sesuatu yang tidak
pernah ada..? Tentu saja tidak demikian, penghapusan dosa dan
diterimanya taubat TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan perubahan status.
Demikian juga halnya dengan Adam dan Hawa, perbuatan mereka mendekat atau merasakan sajaratun khuldi
membuat status mereka berubah secara logis sehingga mereka tidak bisa
lagi menjalani kehidupan di jannah, melainkan harus hidup di dunia ini.
Ampunan Allah terhadap taubat mereka bukan berarti perubahan status
tersebut menjadi surut kembali, dan kembali ke asal, status baru tetap
harus dijalankan, makanya Al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa
terlemparnya Adam dan Hawa ke dunia merupakan suatu kutukan..
DEMIKIAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar